
Franchise Pertamina menjadi peluang bisnis yang menarik bagi calon mitra yang ingin bergerak di sektor energi. Pertamina membuka kesempatan usaha melalui program kemitraan resmi, khususnya pada bidang SPBU dan distribusi produk. Program ini hadir dengan sistem yang jelas, standar operasional yang terukur, serta dukungan penuh dari perusahaan.
Dengan begitu, mitra dapat menjalankan bisnis secara lebih terarah. Selain itu, permintaan bahan bakar di Indonesia terus meningkat. Kondisi ini membuat prospek usaha semakin menjanjikan. Melalui franchise ini, pelaku usaha dapat berkontribusi sekaligus memperoleh keuntungan jangka panjang.
Pertamina memiliki perjalanan panjang sejak awal berdirinya. Pada tahun 1957, pemerintah mendirikan PT Permina untuk mengelola aset minyak peninggalan Belanda. Kemudian, pada 1960, Permina bergabung dengan Pertamin sehingga terbentuk PN Pertamina pada 1968. Penggabungan ini menegaskan peran negara dalam menguasai sumber daya energi strategis.
Memasuki era 1970-an, Pertamina berkembang pesat. Pemerintah memberi kewenangan penuh kepada Pertamina untuk mengelola eksplorasi, produksi, hingga distribusi minyak dan gas. Saat harga minyak dunia melonjak, Pertamina menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Pada periode ini pula dibangun kilang besar di Balikpapan, Cilacap, dan Dumai. Kilang tersebut memperkuat kapasitas nasional dalam pengolahan minyak.
Setelah reformasi, posisi Pertamina berubah signifikan. Tahun 2001, Undang-Undang Migas No. 22 diberlakukan. Regulasi ini menghapus monopoli Pertamina di sektor migas. Perusahaan harus bersaing dengan pihak swasta. Kemudian pada 2003, statusnya beralih menjadi PT Pertamina (Persero). Transformasi ini mendorong manajemen untuk lebih transparan, profesional, dan berorientasi bisnis.
Langkah Pertamina tidak terhenti sampai di sana. Sejak 2005, perusahaan memperluas bisnis menjadi energi terintegrasi. Pertamina mengelola hulu migas, hilir, hingga energi baru dan terbarukan. Produk seperti pelumas, avtur, dan Bright Gas hadir untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Tahun 2018, Pertamina juga mengambil alih pengelolaan blok migas yang kontraknya berakhir. Langkah ini memperkuat kendali negara atas energi.
Kini Pertamina tercatat dalam daftar Fortune Global 500 sebagai salah satu perusahaan terbesar dunia. Perusahaan juga menanamkan investasi di berbagai negara seperti Irak, Aljazair, Malaysia, dan Venezuela. Tidak hanya fokus pada minyak dan gas, Pertamina mulai mengarahkan strategi menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan.

Franchise Pertamina kini semakin diminati karena mampu menghadirkan prospek stabil sekaligus keuntungan jangka panjang. Dalam dunia usaha yang penuh ketidakpastian, memilih franchise dengan brand besar dan terpercaya tentu memberikan nilai tambah yang signifikan. Pertamina, sebagai perusahaan energi nasional, sudah mengantongi reputasi kuat di masyarakat sehingga konsumen tidak lagi ragu menggunakan produk maupun layanannya.
Pertama, franchise Pertamina unggul karena membawa nama merek yang sudah dikenal luas. Hampir seluruh masyarakat Indonesia bergantung pada produk Pertamina, baik bahan bakar, LPG, maupun pelumas. Dengan brand yang mapan, mitra memiliki peluang lebih besar menarik pelanggan dibandingkan harus membangun usaha dari nol.
Kedua, bisnis ini tetap berjalan karena menawarkan kebutuhan yang tidak pernah surut. Energi, khususnya BBM dan gas, selalu dipakai setiap hari. Tingginya permintaan menjadikan franchise Pertamina relatif lebih aman dibandingkan jenis usaha lain yang hanya mengikuti tren atau bersifat musiman.
Ketiga, Pertamina secara aktif memberikan dukungan penuh kepada para mitra. Dukungan ini mencakup distribusi produk, standar pelayanan, hingga bimbingan teknis yang terstruktur. Dengan sistem tersebut, mitra dapat mengurangi risiko kesalahan dalam pengelolaan bisnis.
Keempat, franchise Pertamina menawarkan beragam pilihan model usaha. Investor bisa menentukan apakah ingin membuka SPBU reguler, SPBU kompak, SPBU modular, atau Pertashop. Fleksibilitas ini memudahkan calon mitra menyesuaikan modal dan lokasi yang tersedia.
Terakhir, franchise Pertamina menghadirkan potensi balik modal yang lebih jelas. Tingginya kebutuhan energi dan kestabilan pasar membuka jalan bagi mitra untuk meraih keuntungan berkelanjutan.
Dengan semua keunggulan tersebut, franchise Pertamina terbukti lebih kompetitif dibandingkan banyak jenis bisnis lain yang rawan tergerus tren dan perubahan pasar.
Pertashop (skema resmi: Gold / Platinum / Diamond) — Rp250 juta (Gold), ±Rp400 juta (Platinum), ±Rp500 juta (Diamond). Paket ini biasanya sudah mencakup unit Pertashop, instalasi, dan sebagian modal pembelian BBM (jumlah dan komponen tergantung tipe).
Kompak (area rural/remote, kapasitas kecil) — ±Rp1 miliar (di luar tanah).
Mini / Modular — ±Rp2,5 miliar (di luar tanah) untuk konfigurasi satu pulau pompa; ada juga modul kecil yang dipasarkan berbeda-beda.
Reguler (full station) — kisaran Rp5–8 miliar (biaya pembangunan & peralatan; tanah biasanya belum termasuk). Untuk lokasi urban dan stasiun penuh, angka mendekati ujung atas kisaran.
Catatan cepat: Angka media di atas mengacu pada informasi resmi/independen yang dipublikasikan Pertamina dan media ekonomi.
Tanah — sering tidak termasuk dalam angka “modal investasi” yang diberitakan. Harga tanah lokal dapat mengubah total biaya secara drastis (bisa jadi biaya terbesar).
Infrastruktur & pembangunan — pondasi, canopy, ruko/toko mini, rumah pompa, drainase, PLTS atap (untuk SPBU reguler ada ketentuan PLTS), pagar, jalan akses.
Peralatan isi ulang — tangki (under/above-ground), dispenser (pulau pompa), piping, sistem pengukuran, pemadam, safety equipment.
Pertamina menyediakan unit Pertashop lengkap dengan instalasi melalui paket resmi Gold, Platinum, maupun Diamond. Dalam paket tersebut, biaya sudah mencakup unit beserta pemasangan. Sebagai contoh, pada paket Gold, calon mitra perlu menyiapkan modal awal untuk pembelian produk Pertamax sekitar Rp20 juta.
Selain itu, calon mitra juga harus melalui tahap perizinan dan verifikasi. Proses ini mencakup pengurusan NIB, dokumen lingkungan seperti AMDAL atau UKL-UPL, hingga perizinan IMB dan SLO. Pertamina turut melakukan verifikasi, dan pada tahap ini calon mitra akan dikenakan biaya verifikasi atau initial fee sebagai bagian dari proses resmi.
Tidak hanya itu, mitra perlu menyiapkan modal kerja berupa stok awal BBM. Jumlahnya bergantung pada kapasitas tangki yang digunakan. Untuk Pertashop dengan ukuran lebih besar, kebutuhan modal untuk pengisian awal bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Dengan adanya tahapan ini, Pertamina memastikan bahwa setiap mitra siap beroperasi sesuai standar, baik dari sisi instalasi, legalitas, maupun modal kerja. Transisi dari persiapan menuju operasional pun menjadi lebih terarah dan terukur.
Biaya lain — biaya pengurusan dokumen, konsultansi, biaya safety/lingkungan, upah teknisi, sambungan listrik, dan (sering) kewajiban instalasi PLTS atap untuk SPBU reguler.
Bentuk usaha: wajib berbadan hukum (PT atau Koperasi).
Rekening koran / saldo: ada persyaratan bukti likuiditas — media melaporkan minimal Rp2 miliar untuk SPBU Reguler dan Rp1 miliar untuk SPBU Mini/Kompak (dokumen rekening 3 bulan terakhir).
Pengajuan & verifikasi: pendaftaran mitra dilakukan melalui portal kemitraan Pertamina (kemitraan.pertamina.com / dashboard kemitraan). Calon mitra akan melalui verifikasi lokasi dan administrasi; Pertamina juga memungut biaya verifikasi / initial fee pada proses tertentu.
(ini contoh ringkas berdasarkan paket yang diberitakan)
Unit & instalasi: bagian paket (termasuk rakitan, dispenser) — bagian dari Rp250 juta.
Modal pembelian produk awal (Pertamax contoh): ± Rp20 juta.
Biaya pembangunan ringan / penataan tempat, izin minor, logistik: sisa dari paket.
Estimasi pengembalian modal yang dilaporkan umumnya 3–5 tahun tergantung throughput (penjualan per hari).
Harga dan ketersediaan lahan (lokasi strategis = biaya lahan lebih tinggi).
Kapasitas tangki & jumlah pulau pompa (menentukan kebutuhan stok awal dan peralatan).
Status tanah (milik sendiri vs sewa; kalau sewa perlu hitung sewa jangka panjang).
Kebutuhan AMDAL / izin lingkungan (area padat penduduk atau dekat sumber air cenderung butuh studi lebih mahal).
Kebijakan regional / harga kontraktor (biaya konstruksi berbeda tiap daerah).
Tentukan tipe (Pertashop Gold/Platinum/Diamond, SPBU Kompak/Mini/Reguler).
Hitung harga tanah per m² di lokasi yang Anda incar. (ini faktor terbesar).
Gunakan kisaran modal dari poin 1 sebagai baseline lalu tambahkan biaya lahan + buffer 15–30% untuk izin, tak terduga, dan modal kerja.
Siapkan dokumen perusahaan & rekening koran (lihat batas minimal likuiditas).
Daftar lewat kemitraan.pertamina.com atau hubungi Pertamina Call Center 135 untuk info paket & verifikasi resmi.
Franchise Pertamina menjadi salah satu peluang usaha dengan prospek keuntungan jangka panjang. Namun, sebelum memutuskan untuk bergabung, calon mitra tentu perlu memahami estimasi balik modal atau return on investment (ROI) dari investasi yang dikeluarkan.
Pertama, kita perlu melihat besaran modal awal. Untuk SPBU reguler, biaya pembangunan bisa mencapai Rp5–8 miliar, di luar harga tanah. Sementara SPBU kompak membutuhkan investasi sekitar Rp1–2,5 miliar. Adapun SPBU modular berkisar Rp2,5 miliar, dan Pertashop relatif lebih terjangkau, yaitu mulai Rp250 juta hingga Rp500 juta. Perbedaan modal ini berpengaruh pada kecepatan balik modal.
Kedua, faktor lokasi sangat menentukan omzet harian. SPBU reguler di jalur transportasi utama dapat menjual ribuan liter BBM setiap hari. Jika margin per liter berkisar Rp300–Rp500, potensi pendapatan bulanan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dengan kondisi ini, estimasi balik modal untuk SPBU reguler rata-rata berkisar 5–7 tahun.
Untuk SPBU kompak atau modular, omzet lebih rendah dibanding reguler, namun kebutuhan BBM di pedesaan tetap stabil. Balik modal biasanya tercapai dalam 6–8 tahun. Sementara Pertashop yang menargetkan wilayah tanpa SPBU besar memiliki prospek lebih cepat. Dengan investasi lebih kecil, modal dapat kembali dalam 3–5 tahun, terutama jika lokasi berada di desa dengan permintaan tinggi.
Selain itu, dukungan penuh dari Pertamina dalam distribusi, pelatihan, dan promosi membuat risiko usaha lebih terkendali. Hal ini membantu mitra menjaga stabilitas pendapatan dan mempercepat pengembalian modal.
Secara keseluruhan, estimasi balik modal franchise Pertamina sangat dipengaruhi oleh jenis SPBU, lokasi usaha, serta manajemen operasional. Dengan strategi tepat, bisnis ini mampu menghasilkan keuntungan berkelanjutan sekaligus menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan.
Franchise Pertamina tidak hanya menawarkan peluang usaha di sektor energi, tetapi juga menghadirkan dukungan menyeluruh bagi setiap mitra. Pertamina memastikan bahwa pengusaha dapat menjalankan bisnis secara profesional, terarah, dan sesuai standar nasional.
Pertama, Pertamina menjamin pasokan BBM resmi yang terintegrasi. Dengan jaringan distribusi luas, mitra tidak perlu khawatir terhadap kelangkaan stok. Ketersediaan produk yang stabil membuat operasional berjalan lancar.
Kedua, perusahaan memberikan pelatihan manajemen dan operasional. Pelatihan ini mencakup tata kelola keuangan, pelayanan konsumen, hingga penerapan standar keselamatan. Dengan begitu, mitra bisa meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi usaha.
Selain itu, Pertamina menyediakan fasilitas fisik dan teknologi modern. Mulai dari desain bangunan SPBU, peralatan pengisian, hingga sistem digital untuk pencatatan transaksi secara real time. Fasilitas ini membantu pengelolaan bisnis menjadi lebih praktis dan transparan.
Tak hanya itu, mitra franchise juga memperoleh dukungan promosi nasional maupun lokal. Strategi pemasaran yang terintegrasi ini membuat brand semakin kuat di mata konsumen. Pertamina bahkan rutin melakukan pendampingan teknis dan inspeksi agar mitra tetap sesuai prosedur.
Dengan berbagai fasilitas dan dukungan tersebut, franchise Pertamina menjadi pilihan bisnis yang stabil, terukur, dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang.
Untuk nilai pasti dan paket terbaru, verifikasi langsung lewat portal kemitraan Pertamina (kemitraan.pertamina.com) atau hubungi Pertamina (135).
Sumber : koinworks.com, finance.detik.com, ocbc.id, narasi.tv
SPBU reguler menjadi tipe yang paling sering beroperasi di jalan utama maupun kawasan perkotaan. Pertamina membangun jenis ini di atas lahan luas, lengkap dengan lebih dari satu dispenser, serta menghadirkan fasilitas pendukung.
Ciri khas: SPBU ini menyediakan hampir semua jenis bahan bakar, mulai dari Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Solar, Dexlite, hingga Pertamina Dex.
Fasilitas: Pertamina menambahkan layanan seperti minimarket, mushola, toilet, bengkel kecil, hingga mesin ATM.
Investasi: Biaya pembangunan tergolong tinggi, yaitu sekitar Rp5–8 miliar, belum termasuk tanah. Lokasi ideal: SPBU ini cocok dibangun di jalur transportasi utama, pusat kota, kawasan industri, maupun titik dengan arus kendaraan padat.
Pertamina menghadirkan SPBU kompak untuk menjangkau wilayah pedesaan atau daerah terpencil yang belum memiliki SPBU besar.
Ciri khas: Unit ini memakai perangkat modular, jumlah dispenser lebih terbatas, dan stok BBM lebih sedikit.
Fasilitas: Biasanya hanya menyediakan pengisian BBM serta kios kecil, tanpa fasilitas tambahan lengkap.
Investasi: Modal yang diperlukan berkisar Rp1–2,5 miliar.
Lokasi ideal: Cocok ditempatkan di pedesaan, kawasan rural, atau wilayah dengan akses energi terbatas.
Pertamina juga mengembangkan SPBU mini dengan desain modular yang lebih sederhana dibanding reguler. Ukurannya lebih ringkas, namun tetap sesuai standar.
Ciri khas: SPBU ini biasanya memiliki 1–2 dispenser dengan tangki bawah tanah atau portabel.Fasilitas: Layanan terbatas pada pengisian BBM dasar.
Investasi: Biaya pembangunan sekitar Rp2,5 miliar, tergantung kapasitas.
Lokasi ideal: Sangat sesuai untuk jalur provinsi, jalan antar kota, atau area pinggiran.
Pertamina menghadirkan Pertashop sebagai unit distribusi BBM resmi berskala kecil. Program ini sering dikelola oleh UMKM, koperasi, maupun BUMDes sehingga dapat menjangkau wilayah yang belum memiliki SPBU besar.
Dari sisi ciri khas, Pertashop menggunakan kontainer modular dengan satu dispenser. Unit ini tidak hanya menjual BBM non-subsidi seperti Pertamax, tetapi juga menyediakan Bright Gas serta pelumas Pertamina.
Untuk fasilitas, Pertashop beroperasi dengan layanan yang terbatas pada pengisian dan penjualan produk non-subsidi. Meski sederhana, keberadaannya mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat di tingkat lokal.
Dari segi investasi, Pertamina menawarkan paket kemitraan dengan nilai mulai Rp250 juta hingga Rp500 juta. Paket ini terbagi ke dalam kategori Gold, Platinum, dan Diamond, sehingga calon mitra bisa menyesuaikan pilihan sesuai kemampuan modal.
Dengan konsep tersebut, Pertashop menjadi solusi bisnis yang praktis sekaligus bermanfaat. Melalui transisi dari investasi hingga operasional, Pertamina memastikan bahwa unit ini tetap berjalan sesuai standar dan memberikan peluang usaha yang stabil bagi mitra.
Lokasi ideal: Biasanya dibangun di desa, kecamatan, atau wilayah tanpa SPBU reguler.
SPBU COCO adalah model stasiun yang Pertamina miliki dan operasikan langsung. Dengan konsep ini, Pertamina menampilkan standar terbaik.
Ciri khas: SPBU ini menjadi tolok ukur pelayanan serta operasional karena dikelola induk perusahaan. Fasilitas: Layanannya sangat lengkap, mulai dari Bright Store, bengkel, hingga sistem digital Pertamina.
Tujuan: Model ini berfungsi sebagai contoh penerapan pelayanan, keamanan, dan pengelolaan sesuai standar perusahaan.
Franchise Pertamina menjadi salah satu peluang usaha dengan prospek keuntungan jangka panjang. Namun, sebelum memutuskan untuk bergabung, calon mitra tentu perlu memahami estimasi balik modal atau return on investment (ROI) dari investasi yang dikeluarkan.
Pertama, kita perlu melihat besaran modal awal. Untuk SPBU reguler, biaya pembangunan bisa mencapai Rp5–8 miliar, di luar harga tanah. Sementara SPBU kompak membutuhkan investasi sekitar Rp1–2,5 miliar. Adapun SPBU modular berkisar Rp2,5 miliar, dan Pertashop relatif lebih terjangkau, yaitu mulai Rp250 juta hingga Rp500 juta. Perbedaan modal ini berpengaruh pada kecepatan balik modal.
Kedua, faktor lokasi sangat menentukan omzet harian. SPBU reguler di jalur transportasi utama dapat menjual ribuan liter BBM setiap hari. Jika margin per liter berkisar Rp300–Rp500, potensi pendapatan bulanan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dengan kondisi ini, estimasi balik modal untuk SPBU reguler rata-rata berkisar 5–7 tahun.
Untuk SPBU kompak atau modular, omzet lebih rendah dibanding reguler, namun kebutuhan BBM di pedesaan tetap stabil. Balik modal biasanya tercapai dalam 6–8 tahun. Sementara Pertashop yang menargetkan wilayah tanpa SPBU besar memiliki prospek lebih cepat. Dengan investasi lebih kecil, modal dapat kembali dalam 3–5 tahun, terutama jika lokasi berada di desa dengan permintaan tinggi.
Selain itu, dukungan penuh dari Pertamina dalam distribusi, pelatihan, dan promosi membuat risiko usaha lebih terkendali. Hal ini membantu mitra menjaga stabilitas pendapatan dan mempercepat pengembalian modal.
Secara keseluruhan, estimasi balik modal franchise Pertamina sangat dipengaruhi oleh jenis SPBU, lokasi usaha, serta manajemen operasional. Dengan strategi tepat, bisnis ini mampu menghasilkan keuntungan berkelanjutan sekaligus menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan.
Franchise Pertamina tidak hanya menawarkan peluang usaha di sektor energi, tetapi juga menghadirkan dukungan menyeluruh bagi setiap mitra. Pertamina memastikan bahwa pengusaha dapat menjalankan bisnis secara profesional, terarah, dan sesuai standar nasional.
Pertama, Pertamina menjamin pasokan BBM resmi yang terintegrasi. Dengan jaringan distribusi luas, mitra tidak perlu khawatir terhadap kelangkaan stok. Ketersediaan produk yang stabil membuat operasional berjalan lancar.
Kedua, perusahaan memberikan pelatihan manajemen dan operasional. Pelatihan ini mencakup tata kelola keuangan, pelayanan konsumen, hingga penerapan standar keselamatan. Dengan begitu, mitra bisa meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi usaha.
Selain itu, Pertamina menyediakan fasilitas fisik dan teknologi modern. Mulai dari desain bangunan SPBU, peralatan pengisian, hingga sistem digital untuk pencatatan transaksi secara real time. Fasilitas ini membantu pengelolaan bisnis menjadi lebih praktis dan transparan.
Tak hanya itu, mitra franchise juga memperoleh dukungan promosi nasional maupun lokal. Strategi pemasaran yang terintegrasi ini membuat brand semakin kuat di mata konsumen. Pertamina bahkan rutin melakukan pendampingan teknis dan inspeksi agar mitra tetap sesuai prosedur.
Dengan berbagai fasilitas dan dukungan tersebut, franchise Pertamina menjadi pilihan bisnis yang stabil, terukur, dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang.
Kesuksesan franchise Pertamina sudah dibuktikan oleh banyak pengusaha di berbagai daerah. Dengan brand besar dan dukungan sistem operasional yang jelas, para mitra merasakan manfaat nyata dari bisnis ini.
Budi Santoso, pemilik SPBU di Semarang, menceritakan pengalamannya. Ia berkata, “Saya memutuskan bergabung dengan franchise Pertamina karena melihat kebutuhan BBM tidak pernah surut. Dalam dua tahun pertama, omzet saya stabil bahkan meningkat meskipun ada persaingan.” Menurutnya, keunggulan terbesar adalah kepercayaan konsumen terhadap produk Pertamina yang sudah dikenal luas.
Hal senada disampaikan oleh Siti Marwah, pengelola Pertashop di Jawa Barat. Ia menjelaskan, “Awalnya saya ragu karena modal terbatas. Namun dengan adanya paket investasi Pertashop, saya bisa memulai usaha lebih ringan. Pertamina juga memberi pelatihan operasional, jadi saya tidak merasa berjalan sendiri.” Dari usahanya, Siti mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Sementara itu, Andi Wijaya yang mengelola SPBU modular di Sulawesi, menambahkan, “Sistem distribusi Pertamina sangat membantu. Pasokan BBM selalu terjaga sehingga saya bisa melayani konsumen dengan baik. Hal ini membuat kepercayaan pelanggan meningkat dan penjualan semakin stabil.”
Dari berbagai testimoni tersebut terlihat bahwa franchise Pertamina bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga tentang stabilitas usaha, dukungan penuh, serta kontribusi sosial bagi masyarakat. Keberhasilan para pengusaha ini membuktikan bahwa memilih franchise Pertamina merupakan langkah strategis untuk membangun bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.